CUKUP SATU MATAHARI.
Icha Koraag
Icha Koraag
Menyamakan persepsi tidaklah semudah mengucapkannya. Ini bisa kita lihat dari kejadian sehari-hari di sekeliling kita. Salah paham bukanlah hal baru. Herannya sekalipun menyadari, kesalahan semacam itu kerap berulang. Padahal kuncinya sederhana ”Menyamakan Persepsi atau pemahaman”.
Bagaimana bisa menjumpai titik temu kalau warna biru yang aku maksud tidak sama dengan warna biru yang dimaksud Van, anak bungsuku. Hal sepele kadang menjadi masalah yang tidak sepele. Suamiku akan mengatakan kepadaku ”Ya mengalah toh sama anak!” Sementara bagiku bukan soal mengalah, akan lebih mudah memahami jika biru yang dimaksud Van sama dengan biru yang aku maksud. Itu yang pertama. Kedua, toh kedua t-shirt itu sama serasinya jika dikenakan dengan celana jeans.
Walau aku yang mengatur lemari pakaian, tapi aku tidak selalu ingat di mana meletakan baju yang dimaksud Van. Kalau sudah begitu maka, aku menjadi jengkel dan Van mulai menangis. Aku marah karena Van rewel, Van marah karena aku tidak mengerti. Berbicara dengan anak seusia Van (3,5 th) sungguh membutuhkan kesabaran yang luar biasa.
Biasanya dengan menarik nafas panjang aku butuh waktu sejenak untuk mengendlikan emosi. Lalu kalau sudah merasa lebih tenang, maka Van kupanggil, kupeluk dan kucium sambil meminta maaf atas kejengkelanku. Masih terisak-isak Van berkata:
”Aku mau baju biru yang ada gambar Mickey Mouse” ujarnya
”Tapi apa bedanya dengan baju biru yang ini, nak? ” tanyaku sambil memgang t-shirt biru dengan motif Mickey Mouse kecil-kecil.
”Bukan yang itu, mama. Tapi yang Mickey Mousenya satu di depan sini!” ujar Van sambil menunjuk ke arah dadanya.
Oh la...la. Bagiku t-shirt biru ada gambar Mickey Mouse mau itu satu gambar atau kecil-kecil yang penting biru dan ada Mickey Mousenya. Tapi tidak bagi Van. Dan untuk itu aku harus mengalah, kembali mengaduk-ngaduk isi lemari sambil mengingat-ingat kapan terakhir baju itu di pakai. Setelah buka tutup empat laci lemarinya, akhirnya nampak juga. Tertebus sudah segala kejengkelan lewat pelukan dan ucapan terima kasih dari Van. Matanya yang bersinar menghapus amarah yang sempat menggoda.
Dalam kehidupan nyata, berbicara dari satu titik pandangan yang sama memang tidaklah mudah. Jangankan dengan Van yang baru berusia 3,5 tahun. Dengan suami pun kadang timbul masalah. Kala aku merasa sangat yakin mengerti arah pembicaraannya tapi ternyata bukan itu yang dimaksud. Dalam skala kecil paling menjadi bahan tertawaan tapi dalam skala besar, tidak mustahil menjadi pertengkaran.
Bersabar dan menyimak adalah dua kunci untuk memahami arah pembicaraan. Mengenal kebiasan dan segala sifat lawan bicara memudahkanku memahami dari sudut persepsinya. Beda pendapat tidak diharamkan tapi menghormati perbedaan tetap tidak mudah apalagi kompromi dan menerima perbedaan itu sebagai satu kenyataan.
Sesekali mencoba melihat dengan menggunakan kaca mata lawan bicara atau mencoba berdiri di sudut yang sama, barangkali akan memudahkan untuk memahami mengapa ia berpersepsi demikian terhadap permasalahan yang ada. Dengan begitu konflik bisa dihindari atau diminimlkan.
Tidak sedikit kenyataan, peperangan timbul akibat salah persepsi. Namun kelihatannya mengakui kesalahan sebagai salah satu sifat satria sudah punah. Lebih baik bertarung dan mengibarkan panji peperangan daripada minta maaf. Padahal satu matahari sudah cukup menghangatkan bumi tanpa perlu ditambah api peperangan diantara sesama. Salam damai bagi semua! (31 Januari 2007)
Bagaimana bisa menjumpai titik temu kalau warna biru yang aku maksud tidak sama dengan warna biru yang dimaksud Van, anak bungsuku. Hal sepele kadang menjadi masalah yang tidak sepele. Suamiku akan mengatakan kepadaku ”Ya mengalah toh sama anak!” Sementara bagiku bukan soal mengalah, akan lebih mudah memahami jika biru yang dimaksud Van sama dengan biru yang aku maksud. Itu yang pertama. Kedua, toh kedua t-shirt itu sama serasinya jika dikenakan dengan celana jeans.
Walau aku yang mengatur lemari pakaian, tapi aku tidak selalu ingat di mana meletakan baju yang dimaksud Van. Kalau sudah begitu maka, aku menjadi jengkel dan Van mulai menangis. Aku marah karena Van rewel, Van marah karena aku tidak mengerti. Berbicara dengan anak seusia Van (3,5 th) sungguh membutuhkan kesabaran yang luar biasa.
Biasanya dengan menarik nafas panjang aku butuh waktu sejenak untuk mengendlikan emosi. Lalu kalau sudah merasa lebih tenang, maka Van kupanggil, kupeluk dan kucium sambil meminta maaf atas kejengkelanku. Masih terisak-isak Van berkata:
”Aku mau baju biru yang ada gambar Mickey Mouse” ujarnya
”Tapi apa bedanya dengan baju biru yang ini, nak? ” tanyaku sambil memgang t-shirt biru dengan motif Mickey Mouse kecil-kecil.
”Bukan yang itu, mama. Tapi yang Mickey Mousenya satu di depan sini!” ujar Van sambil menunjuk ke arah dadanya.
Oh la...la. Bagiku t-shirt biru ada gambar Mickey Mouse mau itu satu gambar atau kecil-kecil yang penting biru dan ada Mickey Mousenya. Tapi tidak bagi Van. Dan untuk itu aku harus mengalah, kembali mengaduk-ngaduk isi lemari sambil mengingat-ingat kapan terakhir baju itu di pakai. Setelah buka tutup empat laci lemarinya, akhirnya nampak juga. Tertebus sudah segala kejengkelan lewat pelukan dan ucapan terima kasih dari Van. Matanya yang bersinar menghapus amarah yang sempat menggoda.
Dalam kehidupan nyata, berbicara dari satu titik pandangan yang sama memang tidaklah mudah. Jangankan dengan Van yang baru berusia 3,5 tahun. Dengan suami pun kadang timbul masalah. Kala aku merasa sangat yakin mengerti arah pembicaraannya tapi ternyata bukan itu yang dimaksud. Dalam skala kecil paling menjadi bahan tertawaan tapi dalam skala besar, tidak mustahil menjadi pertengkaran.
Bersabar dan menyimak adalah dua kunci untuk memahami arah pembicaraan. Mengenal kebiasan dan segala sifat lawan bicara memudahkanku memahami dari sudut persepsinya. Beda pendapat tidak diharamkan tapi menghormati perbedaan tetap tidak mudah apalagi kompromi dan menerima perbedaan itu sebagai satu kenyataan.
Sesekali mencoba melihat dengan menggunakan kaca mata lawan bicara atau mencoba berdiri di sudut yang sama, barangkali akan memudahkan untuk memahami mengapa ia berpersepsi demikian terhadap permasalahan yang ada. Dengan begitu konflik bisa dihindari atau diminimlkan.
Tidak sedikit kenyataan, peperangan timbul akibat salah persepsi. Namun kelihatannya mengakui kesalahan sebagai salah satu sifat satria sudah punah. Lebih baik bertarung dan mengibarkan panji peperangan daripada minta maaf. Padahal satu matahari sudah cukup menghangatkan bumi tanpa perlu ditambah api peperangan diantara sesama. Salam damai bagi semua! (31 Januari 2007)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar